Diterbitkan pada: 27/11/2025
Kota Kinabalu, Kemendikdasmen — Film itu berjudul “Syurga dalam Botol”, disutradarai oleh sineas muda asal Sabah, Ebi Kornelis. Mulai diputar di bioskop-bioskop di Malaysia --terutama di Sabah-- pada pertengahan Oktober 2025. Dan mendapat sambutan hangat dari publik setempat, malah sudah meraup uang lebih dari RM 1 juta-an.
Penulis sempat menontonnya. Memang sebuah film yang menarik: mengangkat kisah tentang anak-anak tanpa kewarganegaraan (stateless) di Kota Kinabalu, Sabah, yang hidup tanpa hak dan identitas; memaparkan dilema antara memilih jalan jujur atau terjerumus dalam kriminalitas akibat tekanan hidup, sekaligus membuka mata masyarakat terhadap realitas sosial yang ada.
Dalam trailer resmi film itu terdapat sebuah adegan yang memvisualkan beberapa anak sedang belajar di kelas sederhana. Ditampilkan juga teks di bagian bawah layar, sambil terdengar sebuah pernyataan, “Anak-anak pelarian perang Filipina ini, tidak dapat pendidikan yang sewajarnya. Tidak seperti Kerajaan Indonesia yang menyediakan sekolah khas untuk anak-anak Indonesia yang berada di Sabah….”
Tanpa bermaksud membahas film itu secara khusus, di sini penulis sekadar ingin menggaris-bawahi pernyataan tersebut. Adalah benar bahwa Pemerintah Indonesia memang menyediakan layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang ada di Sabah, khususnya melalui Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan Community Learning Centre (CLC).
CLC merupakan tempat belajar sederhana bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) kelahiran Sabah, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia dibentuk khusus untuk membantu pelayanan pendidikan bagi anak-anak PMI yang tinggal bersama orang tuanya yang bekerja di berbagai ladang sawit di seluruh Sabah.
Ini adalah produk lanjutan dari hasil kerja sama dan kesepakatan yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan, yang dilegalkan pada 25 November 2011-kemudian ditetapkan sebagai tanggal lahir CLC di Sabah. Sebelumnya, pada 1 Desember 2008, Pemerintah Malaysia sudah lebih dahulu mengizinkan pendirian SIKK untuk tujuan yang sama.
Di Sarawak, sebuah negeri lain di Malaysia Timur, CLC juga sudah diizinkan beroperasi mulai Januari 2016 untuk jenjang SD. Jadi sampai November 2025, menurut data SIKK sebagai sekolah induk, terdapat 240 CLC di Sabah dan 62 CLC di Sarawak, dengan jumlah total muridnya yang terdata dalam Dapodik 16.601 pelajar SD dan 6.162 pelajar SMP.
Kurikulum, sistem pendidikan dan peraturan pelaksanaan pendidikan di SIKK dan CLC sama persis seperti yang diberlakukan di Indonesia. Guru-guru profesional dari Indonesia didatangkan oleh Pemerintah untuk membantu guru-guru yang ada.
Tidak ketinggalan juga, pengiriman dana bantuan operasional tahunan yang jumlahnya tidak sedikit untuk kelancaran proses pembelajaran dan pengajaran di tempat-tempat pelayanan pendidikan tersebut.
“Inilah memang tujuan utama Pemerintah Republik Indonesia mendirikan SIKK dan CLC di Negeri di Bawah Bayu ini, yakni memberikan layanan pendidikan dasar untuk anak-anak PMI dan kemudian memberikan beasiswa serta kemudahan untuk mereka melanjutkannya ke jenjang lebih tinggi di Indonesia,” kata Kepala SIKK Sahyuddin, MA TESOL.
Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia melalui SIKK dan CLC itu membuat Encik Zulkifli sangat merasa kagum. Menurut Guru Sejarah di salah satu Sekolah Kebangsaan Malaysia di Kundasang itu, anak-anak PMI di Sabah sangatlah beruntung dengan perhatian yang sangat besar dari pemerintah.
“Tanpa pelayanan pendidikan itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka. Bisa jadi mereka sangat potensial menimbulkan gejala sosial yang pasti akan merugikan semua pihak,” tegasnya.
Pengakuan senada juga selalu penulis dengar sendiri dari berbagai pihak dan kalangan, dari pegawai pemerintahan, sopir angkutan online, polisi, akademisi, aktivis kemanusiaan dan lain-lain.
Keberadaan CLC dan SIKK memang sangat positif dan sudah membuahkan hasil. Salah satu contohnya adalah Muh. Asdar, yang lahir di sebuah ladang sawit di Kinabatangan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia (sekitar 400-an kilometer dari Kota Kinabalu).
Ketika berusia setahun, Asdar sudah ditinggal ayah kandungnya yang entah pergi ke mana. Di bawah asuhan ibunya yang pekerja ladang, ia mengawali pendidikan di CLC Ladang Permodalan 1. Selepas tamat dari CLC, sebuah pintu besar terbuka yakni beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) dari Pemerintah Republik Indonesia.
Melalui program ini, Asdar melanjutkan pendidikan menengah di SMA Permata Insani Islamic School, Tangerang. Ia kemudian meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran pada 2021, lalu menyelesaikan studi magister Teknologi Pendidikan dari Universitas Pelita Harapan pada Juli 2023. Semua ia raih berkat beasiswa dari Tanah Air.
Tak berhenti sebagai mahasiswa, Asdar juga terjun dalam berbagai aktivitas profesional bergengsi. Ia antara lain pernah magang di KBRI Kuala Lumpur dan KRI Tawau, serta menjadi staf di Kantor Staf Presiden, Jakarta. Dan sejak tahun lalu, ia resmi menjadi staf di Kantor International Organizations for Migration (IOM), United Nations, Jakarta. Sebuah pencapaian luar biasa bagi anak yang tumbuh di tengah ladang sawit.
Asdar bukan satu-satunya. Lebih dari 4000-an alumni CLC dari Sabah dan Sarawak juga sudah berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, Diploma dan S1 di berbagai lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Semua mereka peroleh setelah melalui proses panjang penuh perjuangan yang tak ringan, di bawah bimbingan dan dukungan guru-guru andalan, apalagi tinggal di ladang yang sarat tantangan. Dari ladang, mereka menembus menara gading; dari keterbatasan, menuju kesempatan.
Kini, sudah 14 tahun CLC berada di Sabah. Masih remaja dan masih banyak pekerjaan yang harus dipelajari, diperbaiki dan dikembangkan supaya dia tetap eksis dan makin maju untuk peningkatan pelayanan pendidikan. Seperti makin maju dan susksesnya Asdar dan rekan-rekannya di Indonesia dan tempat lainnya.
Seraya dengan itu, manajemen CLC juga harus diperbaiki, terutama pengurusan izin operasionalnya di Sabah dan Sarawak supaya statusnya menjadi lebih terlegitimasi. Juga tak boleh dilupakan, masih banyak adik Asdar lain yang belum mendapat kesempatan yang sama, atau malah sama sekali belum tersentuh akses pendidikannya.
Karena itu, berbagai upaya masih harus terus dilakukan untuk menelusuri, mencari dan mengasah potensi serta bakat dari --meminjam istilah Dadang Hermawan, mantan Kepala Sekolah SIKK-- “mutiara-mutiara” yang masih terpendam di belantara perkebunan sawit Malaysia yang sangat luas.
Melalui whatsapp, Asdar menyampaikan sebuah pesan menyentuh, “Tanpa CLC dan dukungan banyak pihak, mungkin saya masih ada di ladang, menombak dan mengutip biji sawit. Terima kasih kepada Pemerintah RI, Perwakilan RI di Malaysia, guru-guru, pengurus ladang, Pemerintah Malaysia, dan semua yang telah memberi kesempatan.”
Selamat ulang tahun ke-14 untuk CLC di Sabah. Semoga terus menjadi ruang harapan bagi ribuan anak Indonesia di Malaysia Timur.
Sambil minum teh tarik setelah nonton “Syurga dalam Botol”, penulis coba beranalogi, kalau anak-anak Filipina di Sabah masih berada dalam botol yang tertutup, anak-anak Indonesia lebih beruntung. Tutup botolnya sudah terbuka sehingga mereka bisa keluar.
Dari ruang tunggu Bandara Internasional Kota Kinabalu, ratusan alumni CLC bersiap terbang ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikan Jenjang SMA atau yang sederajat. Dan di tengah keramaian, terdengar seruan lantang dari Asdar sambil tangannya mengepal, “Kembalilah ke Indonesia kita.” *** (Penulis: Nasrullah Ali Fauzi, Editor: Denty A.)
Sumber: Nasrullah Ali Fauzi
Penulis: Andrew
Editor: Denty Anugrahmawaty