Diterbitkan pada: 12/03/2026
Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menyelenggarakan Pra Pembinaan Young Inventors Challenge (YIC) pada 2-6 Maret 2026 di Jakarta. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan delegasi Indonesia pada ajang kompetisi penelitian tingkat internasional YIC 2026. Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Hardjiono, menegaskan bahwa pembinaan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya. “Setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya. Pra Pembinaan ini merupakan upaya dari implementasi Manajemen Talenta Murid. Semoga adik-adik mendapatkan pengalaman serta pengetahuan yang bermanfaat,” ujar Irene pada kesempatan terpisah, Kamis (5/3). Pra pembinaan YIC 2026 diikuti oleh 12 tim yang terdiri dari 24 murid pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK/MAK/sederajat) tahun 2025. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan beragam bidang penelitian yang menjawab tantangan nyata masyarakat, mulai dari teknologi kesehatan, kecerdasan buatan, material ramah lingkungan, teknologi pertanian, hingga inovasi untuk penyandang disabilitas. Selama lima hari pelaksanaan, para peserta menjalani proses seleksi sekaligus pembinaan intensif melalui presentasi hasil penelitian OPSI 2025 serta penyempurnaan proposal penelitian sesuai standar kompetisi YIC. Para murid juga mendapatkan pendampingan terkait penguatan metodologi penelitian, penyempurnaan visualisasi produk inovasi, serta sharing session bersama alumni YIC dan para pembina. Selain itu, penelitian yang dikembangkan juga diarahkan agar memiliki relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Berbagai inovasi menarik muncul dari para peserta. Salah satunya adalah riset deteksi dini Alzheimer berbasis Kecerdasan Artifisial melalui analisis citra MRI, inovasi material superhidrofobik dari limbah tebu sebagai pelapis anti-air ramah lingkungan, hingga pengembangan teknologi irigasi berbasis Kecerdasan Artifisial yang memungkinkan petani memantau pengelolaan air sawah secara otomatis dan jarak jauh. Selain itu, terdapat pula inovasi di bidang kesehatan seperti pengembangan nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru sebagai kandidat terapi kanker serviks, teknologi drone surveillance untuk pengawasan perikanan berkelanjutan, serta smart cane berbasis machine learning yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra menghindari potensi kecelakaan. Ragam inovasi ini mencerminkan kemampuan murid Indonesia dalam mengintegrasikan sains, teknologi, dan kepedulian terhadap persoalan sosial dalam satu karya penelitian. Koordinator Pembina YIC 2026 dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), Abu Amar, menilai seluruh tim yang mengikuti pra pembinaan memiliki potensi kuat untuk bersaing di tingkat internasional. “Semua murid memiliki potensi dan punya karakter masing-masing. Semoga melalui pra pembinaan ini para murid dapat menyempurnakan hasil penelitiannya sebagai persiapan menuju YIC 2026,” ujar Abu Amar. Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman penting dalam memperdalam riset sekaligus memperluas jejaring. Salah satu peserta, Khariza Fazari Shafiya dari SMA Negeri 2 Ponorogo, mengaku bangga dapat membawa penelitian timnya hingga ke tahap pra pembinaan YIC. Ia menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan timnya bertujuan membantu petani mengelola irigasi sawah secara lebih efisien melalui sistem berbasis kecerdasan buatan yang dapat dipantau dari jarak jauh. “Tujuannya memudahkan petani untuk mengelola lahannya terutama pada tahap irigasi sawah. Petani dapat memantau langsung secara jarak jauh dengan menggunakan telegram,” jelas Khariza. Pengalaman serupa juga disampaikan peserta lain yang menilai pra pembinaan YIC memberikan kesempatan berharga untuk bertukar gagasan dengan murid dari berbagai daerah sekaligus mendapatkan masukan langsung dari para pembina untuk menyempurnakan penelitian mereka. Sebagai informasi, YIC merupakan kompetisi penelitian internasional yang diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTTI). Ajang ini mendorong kolaborasi siswa sekolah menengah dari berbagai negara untuk menghadirkan solusi inovatif berbasis penelitian untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals. Pada tahun 2025, kompetisi ini diikuti oleh peserta dari tujuh negara dengan total 32 tim terbaik yang melaju ke tahap final. Melalui kegiatan pra pembinaan ini, Kemendikdasmen terus memperkuat upaya pembinaan talenta riset murid Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global sekaligus melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Penulis & Dokumentasi: Tim Puspresnas||Editor: Uly, Denty) Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Penulis: Kontributor BKHM
Editor: Denty Anugrahmawaty