Diterbitkan pada: 24/02/2026
Jakarta, Kemendikdasmen - Mengisi rangkaian kuliah tujuh menit (kultum) di bulan Ramadan 1447 H, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, memberikan siraman rohani kepada jemaah di Masjid Baitut Tholibin, Kompleks Kemendikdasmen, Selasa, (24/2). Dalam kultumnya, Wamen Fajar menyampaikan bahwa ibadah puasa bukan sekadar fenomena ritual atau ibadah semata, melainkan sudah menjadi fenomena sosial bahkan kebudayaan. Ia menerangkan bagaimana agama berkontribusi besar dalam memperkuat nilai-nilai moralitas, baik bagi individu maupun sosial. “Keduanya menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat madani atau masyarakat sipil,” terangnya. Lebih lanjut, ia mengutip pemikiran antropolog Jorgen Hellman dalam tulisan berjudul Ritual Fasting for West Java Empowerment, Submission, and Contro/. Wamen Fajar menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga kontribusi yang saling berkaitan, dengan aspek utamanya adalah mengontrol diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang, meskipun itu bersifat halal, seperti makan dan minum. Ia mengungkapkan bahwa hakikat pengendalian diri tetap relevan meski potret Ramadan saat ini telah jauh berbeda dan bersinggungan dengan era media sosial hingga kecerdasan buatan. Wamen Fajar juga merujuk buku berjudul Ramadhan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting karya antropolog asal Swedia, Andre Moller. Ia memaparkan bahwa puasa memiliki dua sisi unik, yakni the joy (kegembiraan) dan jihad (perjuangan menahan diri). Kegembiraan tersebut khususnya tercermin dari tradisi buka bersama dan berburu takjil yang sangat terasa bagi anak-anak. “Tetapi, di samping the joy juga ada jihad, yakni menahan diri dan melawan ego sendiri. Jadi, antropolog yang tidak beragama Islam pun mengamati bahwa puasa punya dampak yang luar biasa dalam membangun mentalitas diri sekaligus solidaritas sosial,” ungkapnya. Dalam konteks lokal, ia mencontohkan budaya isin atau budaya malu dalam budaya Sunda sebagai salah satu bentuk moralitas individu. Menurutnya, budaya malu merupakan nilai dasar integritas yang sangat fundamental bagi setiap manusia. Wamen Fajar juga mengingatkan jemaah melalui sebuah hadis agar tidak hanya menahan lapar dan haus. Ia menekankan pentingnya menghindari perkataan yang buruk (rofas) dan hal yang bodoh, melainkan senantiasa menggunakan rasionalitas atau kewarasan dalam beragama. Ia berharap ibadah puasa dapat melatih setiap pribadi untuk menjadi manusia yang berempati juga tidak sungkan berbagi “Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi moral bagi terwujudnya satu masyarakat yang berkeadaban,” pungkasnya.*** (Penulis: Fairuz Zain/Editor: DentyA./Fotografer: Destian)
Penulis: Kontributor BKHM
Editor: Denty Anugrahmawaty